Pertandingan tenis meja yang disuguhkan oleh komedian Abdel Achrian melawan Dedy Mahendra Desta kemarin berlangsung dengan seru dan heboh. Sebelum pertandingan dilaksanakan saja sudah terbangun tensi tinggi dengan gimik oleh kedua pihak. Laga yang disiarkan langsung di kanal Youtube VINDES dan telah ditonton setidaknya 250 ribu orang yang dimenangkan oleh
cing
Abdel dengan skor 4-1 (9-11, 11-5, 11,6, 11-5,11-5).

Bukan hanya pertandingan yang penuh gimik saja, pertandingan kemarin juga merupakan sebuah
statement
dari Desta dan Abdel guna menaikan pamor tenis meja dan menyentil kepengurusan PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia). Sebenarnya, tenis meja merupakan olahraga yang cukup populer di Indonesia sendiri, namun sayang akhir-akhir ini tenis meja seakan kalah pamor dengan cabang olahraga lainnya.

Maka dari itu yuk kita lebih kenal dengan cabang olahraga yang satu ini.

Sejarah Tenis Meja

Bola ping-pong, meja dan raket | Foto oleh Josh Sorenson dari Pexels via www.pexels.com

Menurut laman ITTF (International Tennis Table Federation), tenis meja merupakan olahraga improvisasi dari tenis rumput yang saat itu populer pada tahun 1880-an. Sebelumnnya tenis meja hanya dimainkan oleh masyarakat kalangan atas di Inggris. Proses berkembangan permainan tenis meja pun sangat menarik. Diawali oleh David Foster pada 1890, Foster menggunakan meja, raket berbahan kayu dan bola karet. Lalu berkembang menjadi
Gossima
oleh John Jaques pada 1891, dengan alat yang sama namun adanya modifikasi dari raket hingga bola, sayangnya
gossima
memiliki bola yang susah memantul yang mengakibatkan berkurangnya minat bermain.

Dari
gossima
diubah menjadi ping-pong oleh Jaques dan menjualnya kepada Hamley Brother (Amerika Serikat).  Permainan pun berkembang dengan penemuan bola yang lebih memantul oleh James Gibb penggemar ping-pong asal Inggris yaitu
Cellulid Ball
dan raket yang lebih nyaman untuk bermain. E.C Goode memulai membuat permainan ini lebih menyenangkan dengan menambah karet pada raket kayu dan menemukan meja yang digunakan hingga saat ini digunkan. Dari kemajuan inilah permainan tenis meja mulai diminati oleh publik.

Popular:   Sistem Kekerabatan Matrilineal Biasanya Dijumpai Pada Daerah

ITTF Sebagai Induk Organisasi Tenis Meja

Penyebaran permainan ping-pong pun tidak terlepas dari bangsa Inggris, ketika itu tentara Inggris sering memainkan olahraga tenis meja. Akibat permainan yang populer, pada 15 Januari 1926 terbentuklah ITTF (International Tennis Table Federation) sebagai induk organisasi tenis meja yang diprakasai oleh Dr. George Lehmen yang berasal dari Jeman.

Orang pertama yang menjadi ketua ITTF adalah Hown Ivor Montagu yang berasal dari Inggris. Saat itu baru ada delapan negara yang langsung mendaftar sebagai anggota ITTF yakni Inggris, Jerman, India, Austria, Hungaria, Swedia, Wales dan Czechoslovakia. ITTF mengadakan pertandingan pertama turnamen ping-pong  di London pada 6-11 Desember 1926 dan dijadikan sebagai
First World Table Tennis Championship.

Sebagai induk organisasi tenis meja, ITTF bertanggung jawab dalam berbagai kopetensi tennis meja seperti
World Table Tennis Championship. Kejuaran ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali yang memperlombakan pertandingan tim ataupun individu. Lalu ada ITTF
Men’s World Cup, ITTF
Womens World Cup
dan ITTF
World Tour. Dan pada 1988, tenis meja masukan dalam cabang olahraga yang dipertandikan dalam Olimpiade di Seoul, Korea Selatan.

Tenis Meja di Indonesia

Permainan tenis meja sudah ada sejak tahun 1930, yang dimainkan oleh orang Belanda saat itu. Pada 1939, terbentuk organisasi kepengurusan tenis meja, yaitu PPPSI (Persatuasn Ping Pong Seluruh Indonesia). Tenis meja pun menjadi salah satu olahraga yang dipertandingkan dalam PON (Pekan Olahraga Nasional) pertama pada 1948 yang diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah. Kongres pertama PPPSI baru diadakan pada 1958 di Surakarta dan berganti nama sebagai PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia). Dua tahun kemudian, PTMSI bergabung menjadi anggota TTFA (Table Tennis Federation of Asia). Dan pada 1961, PTMSI juga sudah menjadi anggota resmi  ITTF.

Popular:   Pidato Bahasa Sunda Singkat Tentang Kebersihan

Prestasi tenis meja Indonesia cukup gemilang, banyak atlet-atlet berprestasi yang mengharumkan nama Indonesia di cabang olahraga ini. Nama-nama legenda seperti Sugeng Utomo yang pernah masuk peringkat 10 besar tunggal dunia (1969), peringkat 5 besar tunggal dalam
Asian Table Tennis Champions
(1970) dan peringkat 8 ganda putra (1975)
World Table Tennis Champions. Lalu ada Rossy Pratiwi Dipoyati mewakili Indonesia dalam dua Olimpiade di Barcelona (1992) dan Atlanta (1996).

Anton Suseno yang menjadi komentator di pertandingan Desta-Abdel, pernah memenangkan mendali emas untuk
Sea Game

1991 dan 1993 dan mewakili Indonesia dalam tiga Olimpiade di Barcelona (1992), Atlanta (1996) dan Austarlia (2000). Dan pada ajang
Paralimpiade
Tokyo 2020, David Jacobs menyumbangkan mendali perunggu untuk Indonesia dalam nomor tunggal putra.

Nah demikian sejarah tenis meja dunia dan yang ada di Indonesia. Semoga olahraga tenis meja di Indonesia bisa bangkit dan lebih berkembang lagi. Sayang banget kalau olahraga yang cukup populer di Indonesia ini
stuck
gini-gini aja atau malah menurun prestasinya.